ipanelonline.

Survay ipanelonline.


Prosedurnya sangat sederhana tetapi ini membutuhkan keaktifan anggota yang telah mendaftar sehingga setiap survey dapat diikuti dan anggotanya dapat menghasilkan uang dari survey tersebut.
Prosedur pendaftaran ipanelonline :
  1. Gratis dan tidak ada pungutan seperserpun dalam proses  Pendaftaran
  2. setting profil dan data akun
  3. isi informasi dasar ; ini akan menggambarkan survey yang cocok dengan sobat karena setiap survey yang datang adalah survey yang telah dipilih dan memilki kecocokan dengan informasi dasar dan profil akun.
  4. Isi informasi kontak
Proses ini sangat sederhana dan cepat dan yang menariknya lagi setelah mendaftar sobat akan diberikan bonus poin sebesar 500 an. lumayan kan,nanti apabila telah terkumpul minimal poin 5000, sobat bisa menukarkannya dengan uang 50rb.
Yah, semoga saja ini bermanfaat bagi sobat yang sedang mencari informasi tentang cara mendapatkan uang

STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN

STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN

Standar  Penilaian  Pendidikan  adalah  kriteria  mengenai  mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik. Penilaian  pendidikan  sebagai  proses  pengumpulan  dan  pengolahan informasi  untuk  mengukur  pencapaian  hasil  belajar  peserta  didik
mencakup:  penilaian  otentik,  penilaian  diri,  penilaian  berbasis  portofolio, ulangan,  ulangan  harian,  ulangan  tengah  semester,  ulangan  akhir semester, ujian  tingkat kompetensi, ujian mutu  tingkat kompetensi, ujian nasional, dan ujian sekolah/madrasah, yang diuraikan sebagai berikut.
1.  Penilaian  otentik  merupakan  penilaian  yang  dilakukan  secara komprehensif  untuk  menilai  mulai  dari  masukan  (input),  proses,dan keluaran (output) pembelajaran.
2.  Penilaian diri merupakan penilaian yang dilakukan sendiri oleh peserta didik  secara  reflektif  untuk  membandingkan  posisi  relatifnya  dengan kriteria yang telah ditetapkan.
3.  Penilaian  berbasis  portofolio merupakan  penilaian  yang  dilaksanakan untuk  menilai  keseluruhan  entitas  proses  belajar  peserta  didik termasuk  penugasan  perseorangan  dan/atau  kelompok  di  dalam dan/atau  di  luar  kelas  khususnya  pada  sikap/perilaku  dan
keterampilan.  
4.  Ulangan  merupakan  proses  yang  dilakukan  untuk  mengukur pencapaian  kompetensi  peserta  didik  secara  berkelanjutan  dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik.
5.  Ulangan  harian  merupakan  kegiatan  yang  dilakukan  secara  periodik untuk  menilai  kompetensi  peserta  didik  setelah  menyelesaikan  satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih.
6.  Ulangan  tengah  semester  merupakan  kegiatan  yang  dilakukan  oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan tengah  semester  meliputi  seluruh  indikator  yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut.
7.  Ulangan  akhir  semester  merupakan  kegiatan  yang  dilakukan  oleh pendidik  untuk  mengukur  pencapaian  kompetensi  peserta  didik  di akhir  semester.  Cakupan  ulangan  meliputi  seluruh  indikator  yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut.
8.  Ujian  Tingkat  Kompetensi  yang  selanjutnya  disebut  UTK  merupakan kegiatan  pengukuran  yang  dilakukan  oleh  satuan  pendidikan  untuk mengetahui  pencapaian  tingkat  kompetensi.  Cakupan  UTK  meliputi sejumlah  Kompetensi  Dasar  yang  merepresentasikan  Kompetensi  Inti pada tingkat kompetensi tersebut.
9.  Ujian  Mutu  Tingkat  Kompetensi  yang  selanjutnya  disebut  UMTK merupakan  kegiatan  pengukuran  yang  dilakukan  oleh  pemerintah untuk  mengetahui  pencapaian  tingkat kompetensi.  Cakupan  UMTK meliputi  sejumlah  Kompetensi  Dasar  yang  merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut.
10. Ujian  Nasional  yang  selanjutnya  disebut  UN  merupakan  kegiatan pengukuran  kompetensi  tertentu  yang  dicapai  peserta  didik  dalam rangka  menilai  pencapaian  Standar  Nasional  Pendidikan,  yang dilaksanakan secara nasional.
11. Ujian Sekolah/Madrasah merupakan kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi di  luar kompetensi yang diujikan pada UN, dilakukan oleh satuan pendidikan.


Sumber :

SALINAN
LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR   66  TAHUN 2013
TENTANG

STANDAR PENILAIAN PENDIDIKAN

Pengembangan Kurikulum 2013

Rasional Pengembangan Kurikulum 2013

Kurikulum  2013  dikembangkan  berdasarkan  faktor-faktor  sebagai berikut:
a.  Tantangan Internal
Tantangan internal antara lain terkait dengan kondisi pendidikan  dikaitkan dengan  tuntutan pendidikan  yang mengacu kepada 8  (delapan) Standar Nasional Pendidikan yang meliputi standar isi, standar  proses,  standar  kompetensi  lulusan,  standar  pendidik dan  tenaga  kependidikan,  standar  sarana  dan  prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
Tantangan  internal  lainnya  terkait  dengan    perkembangan penduduk  Indonesia  dilihat  dari  pertumbuhan  penduduk  usia produktif.  Saat  ini  jumlah  penduduk  Indonesia  usia  produktif (15-64 tahun)  lebih banyak dari usia tidak produktif  (anak-anak berusia  0-14  tahun  dan  orang  tua  berusia  65  tahun  ke  atas).  Jumlah penduduk usia produktif  ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2020-2035 pada saat angkanya mencapai 70%. Olehsebab  itu  tantangan  besar  yang  dihadapi  adalah  bagaimana mengupayakan  agar  sumberdaya  manusia  usia  produktif  yang melimpah  ini  dapat  ditransformasikan  menjadi  sumberdaya manusia  yang  memiliki kompetensi  dan  keterampilan  melalui pendidikan agar tidak menjadi beban.

b.  Tantangan Eksternal
Tantangan  eksternal  antara  lain  terkait  dengan  arus  globalisasi  dan berbagai isu yang terkait dengan masalah lingkungan hidup, kemajuan  teknologi  dan  informasi,  kebangkitan  industri  kreatif  dan  budaya,  dan  perkembangan  pendidikan  di  tingkat internasional.  Arus  globalisasi  akan  menggeser  pola  hidup masyarakat  dari  agraris  dan  perniagaan  tradisional  menjadi masyarakat  industri  dan  perdagangan  modern  seperti  dapat terlihat  di  World  Trade  Organization  (WTO),  Association  of Southeast  Asian  Nations  (ASEAN)  Community,  Asia-Pacific Economic  Cooperation  (APEC),  dan  ASEAN  Free  Trade  Area (AFTA).  Tantangan  eksternal  juga  terkait  dengan  pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pengaruh dan  imbas  teknosains  serta mutu,  investasi,  dan  transformasi  bidang  pendidikan. Keikutsertaan  Indonesia  di  dalam  studi  International  Trends  in International Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Program for  International  Student  Assessment  (PISA)  sejak  tahun  1999 juga  menunjukkan  bahwa  capaian  anak-anak  Indonesia  tidak menggembirakan dalam beberapa kali  laporan yang dikeluarkan TIMSS  dan  PISA.  Hal  ini  disebabkan  antara  lain  banyaknya materi  uji  yang  ditanyakan  di  TIMSS  dan  PISA  tidak  terdapat dalam kurikulum Indonesia. 

c.  Penyempurnaan Pola Pikir
Kurikulum  2013  dikembangkan  dengan  penyempurnaan  pola pikir sebagai berikut:
1)  pola  pembelajaran  yang  berpusat  pada  guru  menjadi pembelajaran  berpusat  pada  peserta  didik.  Peserta  didik harus  memiliki  pilihan-pilihan  terhadap  materi  yang dipelajari untuk memiliki kompetensi yang sama;
2)  pola  pembelajaran  satu  arah  (interaksi  guru-peserta  didik) menjadi  pembelajaran  interaktif  (interaktif  guru-peserta didik-masyarakat-lingkungan alam, sumber/ media lainnya); 
3)  pola  pembelajaran  terisolasi  menjadi  pembelajaran  secara jejaring  (peserta  didik  dapat  menimba  ilmu  dari  siapa  saja dan  dari  mana  saja  yang  dapat  dihubungi  serta  diperoleh melalui internet);  
4)  pola  pembelajaran  pasif menjadi  pembelajaran  aktif-mencari (pembelajaran siswa aktif mencari semakin diperkuat dengan model pembelajaran pendekatan sains);
5)  pola belajar sendiri menjadi belajar kelompok (berbasis tim);
6)  pola  pembelajaran  alat  tunggal  menjadi  pembelajaran berbasis alat multimedia;
7)  pola  pembelajaran  berbasis  massal  menjadi  kebutuhan pelanggan  (users)  dengan  memperkuat  pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik;
8)  pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal (monodiscipline) menjadi  pembelajaran  ilmu  pengetahuan  jamak (multidisciplines); dan
9)  pola pembelajaran pasif menjadi pembelajaran kritis.

d.  Penguatan Tata Kelola Kurikulum
Pelaksanaan  kurikulum  selama  ini  telah  menempatkan kurikulum sebagai daftar matapelajaran. Pendekatan Kurikulum 2013  untuk  Sekolah Dasar/Madrasah  Ibtidaiyah  diubah  sesuai dengan  kurikulum  satuan  pendidikan.  Oleh  karena  itu  dalam Kurikulum  2013 dilakukan  penguatan  tata  kelola  sebagai berikut: 
1)  tata  kerja  guru  yang  bersifat  individual  diubah menjadi  tata kerja yang bersifat kolaboratif;
2)  penguatan  manajeman  sekolah  melalui  penguatan kemampuan  manajemen  kepala  sekolah  sebagai  pimpinan kependidikan (educational leader); dan
3)  penguatan  sarana  dan  prasarana  untuk  kepentingan manajemen dan proses pembelajaran.

e.  Penguatan Materi
Penguatan  materi  dilakukan  dengan  cara  pendalaman  dan perluasan materi yang relevan bagi peserta didik. 


Sumber :
SALINAN
LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
NOMOR  67 TAHUN 2013 
TENTANG
KERANGKA  DASAR  DAN  STRUKTUR  KURIKULUM
SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH

PRINSIP PENILAIAN HASIL BELAJAR

PRINSIP PENILAIAN HASIL BELAJAR

Penilaian hasil belajar dalam pendidikan dilaksanaan atas dasar
prinsip-prinsip yang  jelas sebagai landasan pijak. Prinsip dalam hal ini
berarti  rambu-rambu  atau  pedoman  yang  perlu  dipegangi  dalam
melaksanakan  kegiatan  penilaian  hasil  belajar.  Untuk  itu,  dalam
pelaksanaan penilaian  harus memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1)  Valid
Penilaian  hasil  belajar  harus  mengukur  apa  yang  seharusnya
diukur dengan menggunakan  jenis  tes yang  terpercaya atau  sahih.
Artinya,  adanya  kesesuaian  alat  ukur  dengan  fungsi  pengukuran
dan  sasaran  pengukuran.  Apabila  alat  ukur  tidak  memiliki
kesahihan  yang  dapat  dipertanggungjawabkan,  maka  data  yang
masuk juga salah dan kesimpulan yang ditarik juga menjadi salah.
2)  Mendidik
Penilaian  hasil  belajar  harus  memberikan  sumbangan  positif
pada  pencapaian  hasil  belajar  siswa.  Oleh  karena  itu,  PBK  harus
dinyatakan  dan  dapat  dirasakan  sebagai  penghargaan  untuk
memotivasi  siswa  yang  berhasil  dan  sebagai  pemicu  semangat
untuk  meningkatkan  hasil  belajar  bagi  yang  kurang  berhasil,
sehingga keberhasilan dan kegagalan  siswa harus  tetap diapresiasi
dalam penilaian.
3)  Berorientasi pada kompetensi
Penilaian  hasil  belajar  harus  menilai  pencapaian  kompetensi
siswa  yang meliputi  seperangkat pengetahuan,  sikap,  ketrampilan
dan nilai yang terefleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.
Dengan  berpijak  pada  kompetensi  ini,  maka  ukuran-ukuran
keberhasilan  pembelajaran  akan  dapat  diketahui  secara  jelas  dan
terarah. 
4)  Adil dan obyektif
Penilaian  hasil  belajar  harus mempertimbangkan  rasa  keadilan
dan obyektifitas siswa, tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, latar
belakang  budaya,  dan  berbagai  hal  yang  memberikan  kontribusi
pada  pembelajaran.  Sebab  ketidakadilan  dalam  penilaian,  dapat
menyebabkan menurunnya motivasi  belajar  siswa,  karena mereka
merasa dianaktirikan.
5)  Terbuka
Penilaian hasil belajar hendaknya dilakukan secara terbuka bagi
berbagai kalangan, sehingga keputusan  tentang keberhasilan  siswa
jelas  bagi  pihak-pihak  yang  berkepentingan,  tanpa  ada  rekayasa
atau sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak.
6)  Berkesinambungan
Penilaian  hasil  belajar  harus  dilakukan  secara  terus-menerus
atau  berkesinambungan  dari  waktu  ke  waktu,  untuk  mengetahui
secara  menyeluruh  perkembangan  siswa,  sehingga  kegiatan  dan
unjuk kerja siswa dapat  dipantau melalui penilaian.
7)  Menyeluruh
Penilaian hasil belajar harus dilakukan secara menyeluruh, yang
mencakup  aspek  kognitif,  afektif,  dan  psikomotorik  serta
berdasarkan pada strategi dan prosedur penilaian dengan berbagai
bukti  hasil  belajar  siswa  yang  dapat  dipertanggungjawabkan
kepada semua pihak.
8)  Bermakna
Penilaian  hasil  belajar  diharapkan  mempunyai  makna  yang
signifikan  bagi  semua  pihak.  Untuk  itu,  PBK  hendaknya  mudah
dipahami  dan  dapat  ditindaklanjuti  oleh  pihak-pihak  yang
berkepentingan.  Hasil  penilaian  hendaknya  mencerminkan
gambaran  yang  utuh  tentang  prestasi  siswa  yang  mengandung
informasi  keunggulan  dan  kelemahan,  minat  dan  tingkat
penguasaan  siswa  dalam  pencapaian  kompetensi  yang  telah
ditetapkan.

TUJUAN PENILAIAN HASIL BELAJAR

TUJUAN PENILAIAN HASIL BELAJAR

Pelaksanaan penilaian  hasil  belajar pada proses  belajar mengajar
bertujuan untuk:
(1) mengetahui kemajuan belajar siswa, baik sebagai individu maupun anggota  kelompok/kelas  setelah  ia  mengikuti  pendidikan  dan pembelajaran dalam jangka waktu yang telah ditentukan. 
(2)  mengetahui  tingkat  efektifitas  dan  efisiensi  berbagai  komponen pembelajaran  yang  dipergunakan  guru  dalam  jangka  waktu tertentu.  Komponen  pembelajaran  itu  misalnya  menyangkut perumusan materi pembelajaran, pemilihan metode pembelajaran, media,  sumber  belajar,  dan  rancangan  sistem  penilaian  yang dipilih.
(3) menentukan tindak lanjut pembelajaran bagi siswa, dan 
(4)  membantu  siswa  untuk  memilih  sekolah,  pekerjaan,  dan  jabatan yang sesuai dengan bakat, minat, perhatian, dan kemampuannya.  Dari  tujuan  tersebut,  menunjukkan  bahwa  penilaian  hasil belajar    pada  dasarnya  tidak  hanya  sekedar  mengevaluasi  siswa, tetapi  juga  seluruh  komponen  proses  pembelajaran,  seperti  guru, metode,  dan  media  pembelajaran.  Karena  kegiatan  pembelajaran tidak  semata-mata  diorientasikan  kepada  siswa,  tetapi merupakan system yang melibatkan semua komponen pembelajaran yang akan digunakan  untuk  perbaikan  bidang  pengajaran  dan  hasil  belajar, fungsi  diagnosis  dan  usaha  perbaikan,  fungsi  penempatan  dan  seleksi,  fungsi  bimbingan dan penyuluhan,  perbaikan    kurikulum, dan penilaian kelembagaan.

tujuh komponen utama pembelajaran efektif

tujuh komponen utama pembelajaran efektif

1.  Konstruktivistik yaitu, membangun pengetahuan dengan cara sedikit demi sedikit dan hasilnya diperluas melalui konteks terbatas (sempit);
2.  Menemukan (inquiry), yaitu bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri, siklus inquiry adalah observasi (pengamatan), mengajukan dugaan (hypothesis),
      pengumpulan data (data gathering), dan menyimpulkan;
3.   Bertanya (questioning), yaitu bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan memiliki kemampuan berpikir siswa, sedang bagi siswa kegiatan bertanya untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan menyerahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Bertanya dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa, antara siswa dengan orang baru yang didatangkan di kelas;
4.   Masyarakat belajar (learning community), konsep ini menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Untuk itu guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar;
5. Pemodelan (modeling), maksudnya dalam sebuah pembelajaran model yang bias ditiru. Guru member model (contoh) tentang bagaimana belajar, namun guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa atau dapat juga dengan
     mendatangkan dari luar seperti mendatangkan seorang tokoh kedalam lingkungan belajar siswa;
6.  Refleksi (reflection), adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan yang kemudian kuncinya adalah bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak siswa;
7. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment), adalah proses pengumpulan sebagai data yang bias memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Pembelajaran yang benar memang seharusnya ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode pembelajaran. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil, dan dengan berbagai cara tes hanya merupakan salah satu cara penilaian.

KERANGKA PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK )

KERANGKA PENELITIAN TINDAKAN KELAS ( PTK )

a.      Judul Proposal
Dalam judul; proposal sudah terlihat masalah yang diteliti dan intervensi (action) apa yang akan dilaksanakan.
      ………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………

b.      Permasalahan
1)      Deskripsi masalah
Masalah dideskripsikan secara jelas dan nyata, guru berwenang untuk memecahkan masalah yang mendesak untuk dipecahkan dan mudah dilaksanakan dilihat dari segi waktu, sarana prasarana dan daya dukung lainnya.
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………

2)      Identifikasi Penyebab Masalah
Identifikasi penyebab dilakukan dengan cara yang lebih sistematis, yaitu dengan proses kolaborasi dan digunakan alat koleksi data seperti angket, wawancara, analisis dokumen hasil ulangan.
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………

c.       Perumusan Masalah
Masalah dirumuskan dalam kalimat pernyataan dan secara jelas terlihat aspek-aspek: what, who, where, when, how/many/much.
Contoh: Bagaimana penerapan Strategi Dril dapat meningkatkan Kemampuan membaca surat-surat pendek ?
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………




d.                              Rencana Tindakan
Cara pemecahan masalah harus menunjukkan akar masalah, bentuk intervensi yang diusulkan diuraikan dalam tahap-tahap, dan.
perencanaan……………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………….
Tindakan ………………………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………
 Observasi/pengamatan…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………………………………
Refleksi ……………………………………………………………………………………………….
………………………………………………………………………………………………………..

e. Tujuan Penelitian
1)      Tujuan umum
Uraian secara garis besar indikator keberhasilan secara umum
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
2)      Tujuan Khusus
Tujuan yang diuraikan lebih rinci dan jelas sehingga tampak indikator keberhasilan baik secara kualitatif maupun kuantitatif.
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………

f.    Kerangka teoretik dan hipotesis tindakan
1)      Kerangka Teoretik
Landasan teoretik tentang urgensi tindakan diuraikan secara jelas dalam dukungan pustaka terakhir. (kemukakan teori-teori yang terkait dengan masalah dan solusinya yang sudah di pilih)
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………