Peranan Orangtua terhadap Pendidikan Akhlaq Anak


Peranan Orangtua terhadap Pendidikan Akhlaq Anak

Ajaran agama Islam berisi hal-hal yang diwajibkan dan yang dilarang serta menggariskan perbuatan-perbuatan yang baik dan buruk, sehingga jika ummat Islam khususnya para remajanya dapat memahami, mendalami dan mengamalkan dengan taat seluruh isi ajaran Islam tersebut, maka mereka akan tumbuh menjadi anggota masyarakat yang berkualitas, berakhlak mulia dan tidak mau melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan diri sendiri, keluarga dan masyarakatnya.
Bahkan sebaliknya mereka justru akan menjelma menjadi benteng dan kekuatan sangat tangguh dalam memberantas tindak kejahatan dan penyelewengan di masyarakat. Ajaran Islam akan sangat menentukan bagi upaya mengantisipasi berbagai perilaku anak yang menyimpang apabila dapat ditanamkan dan dipimpinkan ke dalam jiwa dan perilaku anak-anak, remaja dan generasi muda secara tekun dan berkesinambungan sejak dini dan strategi dan metode yang tepat dan baik.
Salah satu metode sangat penting untuk membina jiwa dan perilaku anak-anak dan remaja agar mereka selalu berpedoman dan berpegang teguh kepada ajaran Islam dalam aktivitas hidupnya sehari-hari adalah melalui pendidikan agama Islam. Pendidikan agama Islam di samping bertujuan supaya anak-anak dan remaja mengenal serta memahami norma, kaidah, nilai-nilai, peraturan dan seluruh isi ajaran Islam, bersamaan dengan itu juga berusaha dengan sungguh-sungguh supaya anak-anak dan remaja tersebut aktif dan taat melaksanakan seluruh norma agama Islam tersebut secara menyeluruh dan konsisten.

Untuk mencapai tujuannya secara sukses, maka pendidikan agama Islam perlu dilaksanakan sejak dini yaitu sejak anak pertumbuhan fisik atau mentalnya dalam asuhan ibu bapaknya sampai anak mencapai usia sekolah. Bukan hanya itu bahkan anak masih dalam kandungan sang ibu pun usaha mendidiknya sudah harus dilakukan yaitu dengan jalan kedua orang tuanya selalu berakhlak dan berbudi pekerti yang baik, menyempurnakan ibadahnya, memperbanyak bersedekah, membaca Al-Qur'an, berpuasa dan berdo'a kepada Allah SWT., dengan tulus agar anak yang akan lahir kelak dalam bentuk fisik yang sempurna dan merupakan anak yang berjiwa saleh.
Pendidikan agama Islam sangat besar manfaatnya untuk menghindarkan anak dari perbuatan dan perilaku menyimpang yaitu sebagai berikut :
1.        Pendidikan agama perlu ditanamkan  sejak dini karena remaja yang komitmen agamanya lemah mempunyai resiko empat kali lebih besar untuk terlibat penyalahgunaan narkoba dibandingkan dengan remaja yang komitmen agamanya kuat.
2.        Kehidupan beragama di dalam rumah tangga perlu diciptakan dengan suasana rasa kasih sayang (silaturrahim) antara ayah-ibu-anak. Penelitian ilmiah telah membuktikan bahwa anak atau remaja yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak religius, resiko untuk terlibat narkoba jauh lebih besar daripada anak yang dibesarkan dalam keluarga religius.
3.        Pentingnya ditanamkan pada anak atau remaja sedini mungkin penyalahgunaan narkoba haram hukumnya sebagaimana haramnya makanan daging babi menurut agama Islam.[1]
Pendidikan di lingkungan keluarga, rumah tangga adalah unit kecil dalam kelompok masyarakat, yang merupakan tempat tinggal pasangan suami istri serta tempat di mana anak-anak dilahirkan dan dibesarkan. Di sinilah tempat pertama sekali bagi anak-anak memperoleh pendidikan dan mengenal nilai-nilai sejak anak-anak dilahirkan. Dengan demikian maka orang tuanyalah yang pertama sekali mendidik. mengajar, membimbing, membina dan membentuk anak-anaknya. Sebab kewajiban orang tua kepada anak-anak keturunannya bukan hanya melahirkannya, lalu memenuhi kebutuhan biologi dan ekonominya akan tetapi orang tua juga memiliki kewajiban-kewajiban penting lainnya yang sangat menentukan mutu dan sukses anak-anaknya di masa datang. Adapun peran orang tua dalam rangka menanamkan pendidikan akhlaq kepada anak dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal antara lain :
a.         Menanamkan nilai-nilai agama  seperti iman, ibadah, akhlak, budi, pekerti, disiplin  dan prinsip-prinsip luhur lainnya.
b.        Memberikan kasih sayang, perhatian, pengorbanan, contoh teladan yang baik.
c.         Melakukan filter, kontrol, koreksi dan pengendalian seluruh tingkah laku putra-putrinya baik di dalam maupun di luar rumah secara rutin dan bijaksana.
d.        Memelihara ketenteraman, kesejukan, kesegaran, keutuhan dan keharmonisan suasana kehidupan rumah tangga sehingga anak-anak merasa tenang, aman, damai, senang, bahagia dan betah di tengah-tengah pergaulan keluarganya sehari-hari.
e.         Menyediakan waktu untuk berkomunikasi (saling curah perasaan ) antar anggota keluarga, menghindari pola hidup mewah atau konsumtif, menciptakan suasana belajar mengajar yang kondusif agar anak mencintai dan sibuk mengejar ilmu”.[2]




[1]Dadang Hawari, Konsep Islam, (Jakarta  : Pustaka Pelajar, 1999), hlm. 93.
[2]Singgih D. Gunarsa, Psikologi Anak Bermasalah, (Yogyakarta  : Fakultas Psikologi UGM., 1985), hlm. 72.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar