SASTRA DI INDONESIA



SEJARAH SASTRA DI INDONESIA

Sejarah  sastra Indonesia tentu tak bisa menafikan peran Balai Pustaka.  Meski periodisasi sastra yang menempatkan kelahiran Balai Pustaka sebagai awal lahirnya sastra Indonesia modern belakangan banyak digugat, tak ada yang berdebat mengenai peran penting  Balai Pustaka dalam menumbuhkembangkan kesusastraan Indonesia Pendirian Balai Pustaka atau Kantor Bacaan Rakyat (Kantoor voor de volkslectuur) 22 September 1917 yang menggantikan Komisi Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan Rakyat (Commissie voor de Indlandsche schook en Volkslectuur) yang berdiri tahun 1908, bukan sekadar sebagai realisasi politik etis Belanda. Sutan Takdir Alisjahbana yang pernah menjadi redaktur penerbit Balai Pustaka menyatakan:
Balai Pustaka didirikan untuk memberi bacaan kepada orang-orang yang sudah pandai membaca, yang tamat sekolah rendah dan yang lain-lain, disamping untuk memberikan bacaan yang membimbing mereka supaya jangan terlampau tertarik pada aliran-aliran sosialisme atau nasionalisme yang lambat laun toh agak menentang pihak Belanda.
Terlepas dari persoalan politik yang melatarbelakanginya, pemerintah kolonial ketika itu menyadari betul fungsi bacaan, khususnya sastra, dalam penyebaran ideologi kepada masyarakat. Oleh sebab itu, mereka melakukan sensor yang ketat terhadap naskah-naskah yang hendak mereka terbitkan. Meski demikian, karya-karya yang lahir ketika itu tetap memperlihatkan kecendrungan semangat pemberontakan terhadap kultur-etnis. Beberapa karya penting yang lahir dalam periode ini adalah Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang oleh pengamat sastra ditempatkan sebagai novel pertama Indonesia dalam khazanah kesusatraan Indonesia modern. Walaupun tema yang mempermasalahkan perkawinan dalam hubungannya dengan harkat dan martabat yang diusung oleh novel ini bukanlah sesuatu yang baru, novel inilah yang pertama kali mempergunakan bahasa Melayu tinggi atau yang biasa disebut bahasa Melayu sekolahan. Dalam konteks inilah Azab dan Sengsara menjadi penting.
Karya lainnya yang tak kalah penting adalah Sitti Nurbaya karya Marah Rusli. Hampir semua kritikus sastra Indonesia menempatkan novel ini sebagai tonggak sastra Indonesia pada periode ini. Novel ini tak sekadar menampilkan latar sosial yang lebih tegas, tetapi juga mengandung kritik tajam terhadap adat-istiadat dan tradisi kolot yang membelenggu. Tema-tema inilah yang kemudian banyak diikuti oleh pengarang-pengarang lainnya pada masa itu. Bahkan di Malaysia, Sitti Nurbaya menjadi bacaan wajib di tingkat sekolah lanjutan sehingga pada tahun 1963 saja, novel ini telah mengalami cetak ulang ke-11 di Malaysia. Maka tak salah jika pada tahun 1963 bersama dengan novel Salah Asuhan, Belenggu, dan Atheis, novel ini memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah. Pengarang lain pada era ini yang wajib diketengahkan adalah Abdul Muis dengan Salah Asuhan-nya. Novel pertama karya sastrawan yang digelari pahlawan nasional ini secara tematik tak mempersoalkan masalah adat-istiadat yang tidak lagi sejalan dengan zamannya, tetapi lebih dari itu, ia mengangkat persoalan kawin campur antarbangsa yang menyangkut perbedaan adat-istiadat, tradisi, agama, dan budaya. Boleh dikatakan, Salah Asuhan merupakan upaya pembaharuan secara tematik pada periode 20-an yang akan menemukan bentuknya pada era setelahnya, yaitu Pujangga Baru. Majalah Pujangga Baru yang dirintis oleh Sutan Takdir Alisjahbana (selanjutnya disebut STA), Sanusi Pane, Armijn Pane, dan Amir Hamzah berdiri tahun 1933. Melalui majalah inilah para pengarang dari pelosok tanah air dan Semenanjung Melayu mempublikasikan karyanya. Begitu populernya majalah ini sehingga para pengarang yang berkarya pada ketika itu disebut sebagai sastrawan Pujanga Baru. Pada periode ini, karya-karya yang lahir memperlihatkan semangat membangun kultur Indonesia di masa datang yang diidealkan. Pengarang penting yang patut dikemukakan pada era ini tentu saja STA dengan karyanya Layar Terkembang yang dianggap sebagai karya terpenting ketiga di antara roman-roman sebelum perang. Para kritikus sastra seperti H.B. Jassin, Ajib Rosidi, Zuber Usman, Amal Hamzah, dan A. Teeuw menyebut novel ini sebagai novel bertendensi. Tokoh Tuti dalam novel ini merupakan representasi sikap dan pemikiran pengarangnya dalam mengangkat harkat martabat wanita Indonesia. Dalam periode 30-an ini lahir pula nama Hamka yang bersama Helmi Yunan Nasution mengelola majalah Pedoman Masjarakat. Dari majalah ini lahir karya penting dari tangan Hamka, yaitu Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Meski secara tematik novel ini masih belum beranjak dari persoalan cinta dan perkawinan dalam hubungannya dengan adat, tetapi Hamka tampaknya tak hendak mempertentangkan secara tegas golongan muda dengan golongan tua, ia lebih menekankan pada pribadi manusianya itu sendiri. Namun, justru dalam pengembangan masalah adat itulah, problematika dalam novel ini menjadi sangat terasa. Nama lain yang layak disebut dalam periode 30-an ini adalah Selasih (nama samara lain; Sariamin = Seleguri = Sri Gunting = Sri Tanjung = Ibu Sejati = Bundo Kandung = Mande Rubiah). Novelnya Kalau Tak Untung mengantarkannya sebagai pujangga wanita Indonesia yang pertama. Dalam kaitannya dengan hal inilah Kalau tak Untung menjadi karya yang sangat penting, meski secara tematik masih menampilkan persoalan yang sama dengan pengarang-pengarang periode 20-an. Nama Sanusi Pane sebagai antipode STA tentu tak bisa begitu saja diluputkan, selain Amir Hamzah yang disebut sebagai pembaharu puisi di era ini. Namun yang patut dicatat dari periode Pujangga Baru adalah pada kurun inilah pertama kali kebudayaan Indonesia dirumuskan melalui polemik antara STA dengan Sanusi Pane, Purbatjaraka, Ki Hajar Dewantara, dll, yang dikenal dengan Polemik Kebudayaan. Meski banyak yang menyetujui pemikiran Sanusi Pene dengan gagasan penyatuan Arjuna dengan Faust yang menghasilkan sintesa Timur dan Barat, tetapi tak pernah terlontar kata sepakat yang melahirkan pernyataan bersama dalam rumusan kebudayaan Indonesia di masa datang. Persoalan Polemik Kebudayaan ini baru terselesaikan ketika Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin memelopori “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Kalimat pertamanya yang berbunyi: “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri,” mengisyaratkan terbukanya angkatan ini menerima pengaruh asing dan kemudian merumuskannya sendiri berdasarkan keberagaman kultur keindonesiaan. “Surat Kepercayaan Gelanggang” inilah yang kemudian menjadi konsepsi seni dan budaya bagi generasi yang dikenal dengan Angkatan 45. Karya penting yang lahir sebagai wujud dari pernyataan bersama tersebut adalah Tiga Menguak Takdir. Buku ini memuat puisi-puisi karya Chairil Anwar, Asur Sani, dan Rivai Apin. Secara implisit, judul Tiga Menguak Takdir seolah hendak menegaskan sikap generasi ini yang dapat dipandang sebagai jawaban dari Polemik Kebudayaan yang muncul karena gagasan Sutan Takdir Alisjahbana. Nama lain yang tak bisa dinafikan dari peta sastra anggkatan 45 adalah drus. Jika Chairil disebut sebagai pembaharu puisi pada periode ini, Idrus disebut-sebut oleh H.B. Jassin sebagai pembaharu prosa melalui cerpen-cerpennya yang terkumpul dalam buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma. Wacana eksistensialisme menemui ruangnya pada periode ini. Puncaknya tentu saja lahirnya cerpen Atheis dari tangan Achdiat K. Mihardja yang seolah menjadi jawaban dari kegelisahan manusia yang hidup pada masa itu. Jika menilik perjalanan kepengarangan para sastrawan sejak dari angkatan Balai Pustaka sampai Angkatan 45, hampir kebanyakan pengarang pada masa itu tumbuh dalam kultur membaca yang muncul akibat sistem pendidikan kolonial ketika itu yang mewajibkan siswanya membaca karya sastra minimal 25 judul dalam rentang masa pendidikan selama tiga tahun di AMS. Kondisi itulah yang memungkankan para pengarang ketika itu berkenalan dengan karya-karya sastrawan dunia seperti Shakespeare (Inggris), Johan Wolfgang von Goethe (Jerman), Leo Tolstoy (Rusia), Rabindranath Tagore (India), Baidaba (Persia), dll. Dan dari perkenalan dengan sastrawan dunia itulah terjadi tranformasi nilai-nilai yang secara otomatis membentuk karakter bangsa ketika itu. Demikianlah perbincangan sejarah sastra yang serba sedikit dan terbatas hanya pada periode Balai Pustaka sampai Angkatan 45.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka:
·         Azab dan Sengsara (1920)
·         Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
·         Cinta dan Hawa Nafsu
·         Siti Nurbaya (1922)
·         La Hami (1924)
·         Anak dan Kemenakan (1956)
·         Tanah Air (1922)
·         Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
·         Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
·         Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
·         Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
·         Cinta yang Membawa Maut (1926)
·         Salah Pilih (1928)
·         Karena Mentua (1932)
·         Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
·         Hulubalang Raja (1934)
·         Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)
·         Tak Disangka (1923)
·         Sengsara Membawa Nikmat (1928)
·         Tak Membalas Guna (1932)
·         Memutuskan Pertalian (1932)
·         Darah Muda (1927)
·         Asmara Jaya (1928)
·         Pertemuan (1927)
·         Salah Asuhan (1928)
·         Pertemuan Djodoh (1933)
·         Menebus Dosa (1932)
·         Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
·         Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

SASTRAWAN ANGKATAN '45.
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga Manguak Takdir, pada periode ini cerpen Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa Indonesia.

Karya Sastra Angkatan 1945


SASTRAWAN ANGKATAN 50
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan di antara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.

Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an


SASTRAWAN ANGKATAN 1966
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.

Karya Sastra Angkatan 1966


PENULIS CERITA REMAJA PADA DEKADE 1980 DAN 1990
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.

Karya Sastra Angkatan 1980 - 1990an


SASTRAWAN  ANGKATAN 2000
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.

Karya Sastra Angkatan 2000


CIRI SASTRA SETIAP RPRIODE ANGKATAN
Ciri-ciri Angkatan Balai Pustaka
Berbicara tentang pertentangan adat dan kawin paksa, dominasi orang tua dalam perkawinan. Gaya penceritaan terpengaruh oleh sastra Melayu yang mendayu-dayu, masih menggunakan bahasa klise seperti peribahasa dan pepatah-petitih. Karya-karya yang diterbitkan Balai Pustaka diharuskan memenuhi Nota Rinkes yang berbunyi: didaktis, serta netral agama dan politik.
Ciri-ciri Angkatan Pujangga Baru
Menampilkan nasionalisme Indonesia,. memasuki kehidupan modern, menampakkan kebangkitan kaum muda. Banyak terpengaruh oleh Angkatan 1880 di Negeri Belanda, sehingga puisi-puisinya banyak yang berbentuk soneta. Pada masa ini terjadi polemik yang seru antartokoh-tokohnya. Sutan Takdir Alisyahbana berorientasi ke barat yang intelektualistik, individualistuik dan materialistik, punya idealisme tinggi akan kemajuan iptek/sains dan dunia. Sanusi Pane berorientasi ke timur (India, Timur Tengah,  Cina) yang spiritualistik, mementingkan olah ruhani. Kemudian Armijn Pane, Amir Hamzah, Kihajar Dewantara, yang lebih menginginkan adanya sintesis barat yang sifistikated dan timur yang sufistik.
Ciri-ciri Sastra Masa Masa Jepang dan Angkatan 45
Bicara tentang kegetiran nasib di tengah penjajahan Jepang yang sangat menindas, menampilkan cita-cita merdeka dan perjuangan revolusi fisik. Pada masa Jepang untuk berkelit dari sensor penguasa, berkembang sastra simbolik. Muncul ungkapan-ungkapan yang singkat-padat-bernas (gaya Chairil Anwar dalam puisi) dan kesederhanaan baru dengan kalimat pendek-pendek nan lugas (gaya Idrus dalam prosa fiksi/sketsa).
Sastra dekade 50-an
Memantulkan kehidupan masyarakat yang masih harus terus berjuang dan berbenah di awal-awal masa kemerdekaan. Disebut juga Generasi Kisah (nama majalah sastra). Di masa ini sastra Indonesia sedang mengalami booming cerpen. Juga marak karya-karya teater dengan tokohnya Motenggo Boesye, Muhammad Ali Maricar, W.S. Rendra (sekarang Rendra saja).Mulai tumbuh sarasehan-sarasehan sastra terutama di kampus-kampus.

Sastra Angkatan ‘66
Menegakkan keadilan dan kebenaran berdasarkan Pancasila dan UUD 45, menentang komunisme dan kediktatoran,  bersama Orde Baru yang dikomandani Jendral Suharto ikut menumbangkan Orde Lama, mengikis habis LEKRA dasn PKI. Sastra Angkatan ’66 berobsesi menjadi Pancasilais sejati. Yang paling terkenal adalah “Tirani” dan “Benteng” antologi puisi Taufiq Ismail. Hampir seluruh tokohnya adalah pendukung utama Manifes Kebudayaan  yamng sempat berseteru dengan LEKRA.
Dekade 70-an – 80-an
Penuh semangat eksperimentasi dalam berekspresi, merekam kehidupan masyarakat yang penuh keberagaman pemikiran dan penghayatan  modernitas. Muncul para pembaharu sastra Indonesia dengan karuya-karyanya yang unik dan segar seperti Sutarji Calzoum Bachri dan Yudhistira Ardi Noegraha dalamm puisi, Iwan Simatupang dan Danarto dal;am prosa fiksi, Arifin C. Noer dan Putu Wijaya dalam teater.
Sastra Mutakhir  (Dekade 90-an dan Angkatan 2000)
Memasuki era Reformasi yang sangat anti KKN dan praktik-praktik otoriter, penuh kebebasan ekspresi dan pemikiran, mengandung renungan religiusitas dan nuansa-nuansa sufistik. Menampilkan euforia menyuarakan hati nurani dan akal sehat untuk pencerahan kehidupan multidimensional. Taufiq Ismail yang pernah terkenal sebagai tokoh sastra Angkatan ’66 ikut mengawal Reformasi dengan bukunya antologi puisi “Malu Aku Jadi Orang Indonesia” (MAJOI). Di samping menampilkan sanjak-sanjak peduli bangsa (istilah yang diusung rubrik budaya Republika) dan karya-karya reformasi yang anti penindasan, gandrung keadilan, berbahasa kebenaran (sesuai Sumpah Rakyat 1998), muncul pula fenomena kesetaraan gender yang mengarah ke woman libs sebagaimana tercermin dalam karya-karya Ayu Utami dari Komunitas Sastra/Teater Utan Kayu, Jenar Mahesa Ayu, Dewi Lestari. Pada era yang bersamaan berkibar bendera Forum Lingkar Pena (FLP) dengan tokohnya HTR (Helvy Tiana Rosa) yang berobsesi mengusung Sastra Pencerahan, Menulis Bisa Bikin Kaya (kaya ruhani, kaya pikiran,, kaya wawasan, dan semacamnya).


SUMBER : Rangkuman dari beberapa blog









untuk melengkapi perpustakaan makalah silahkan klik download dibawah ini
semoga bermanfaat 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar